sugeng RAWUH TENG WEB LARE MBANYUMASAN>> - bidadari
  serat tamu/guest book
  MISKIN HATI TAK HARUS MATI
  orang2 shaleh
  sakit kepala??
  my slide foto
  MENDOAN....!!!
  guyon
  sinau
  sound on blog
  wujudkan impianmu
  tempat rehabilitasi narkoba
  tentang aku
  humor abis
  gado-gado aja
  bidadari
  renungan...(ingat lah ortu)
  JA MIE BON (CERPEN)
  >cari tambahan..?
  buat blog yuk
  kesedihanku
  sadarku
  from santie
  Penyesalan
  Dalam diamku
  Wôñk ñðê$ýo
  Understimit man(gôên arwana)
  SEPI...
  serba serbi penting
  serba serbi lagi
  Counter
  from ayu FS
  pagi yang cerah
  tausiyah...
  hikmah hari ini
  tausiyah(saking kanca)
  bayi cewekORcowok
  tausiyah 4 ortu
  ga liqo ga untung
  refleksi diri
  iman..
  Anganku
  rahasia kesuksesan/live musick
  pentingnya AQIDAH
  aqidah islamiyah
  AQIDAH???
  pemurnian AQIDAH
  pusiiing
  taqwa.com
  muroqobah
  taklim..?
  upzzZZ
  budaya banyumas
  lelaki sholeh
  renungan QOLBU
  ebook gratiss
  Poligami??
  SBLM KITA MENINGGAL
  ujian keimanan
  keputusan terbaik
  mata kuliah dari pemulung
  lagu2 midi asyik
  cerita dari temen
  puisi cinta
  sebuah keajaiban

Suatu Kali Pernah Ada Bidadari Datang ke Kota Kami

Suatu kali pernah, ada bidadari datang di kota kami. Turun dengan cahaya tali malam yang melengkungi langit dan bermula pada cakrawala. Kanak-kanak histeris ketika itu. Mereka yang tengah bermain dengan embun seketika berteriak.

"Ada ibu dengan lengan di sayapnya!"

Kami, yang tua-tua, pun segera keluar mendapati kanak-kanak yang telah menari, --masih tersisa di kaki bidadari garis cahaya yang putih warnanya.

Begitulah pada mulanya.

Ia datang pada suatu malam dan menari bersama anak-anak kami di atas rumputan yang bercahaya oleh embun. Kami tak tahu bagaimana anak-anak kami segera saja bisa menirukan geraknya: Meliuk di punggung, menjejak bumi dengan tumitnya, mengepak tangan laksana mega.

Tapi itulah yang terjadi.
Dan ia tak hanya menari saja.

Ia sentakkan sayapnya yang menyerupai selendang untuk mencipta bunyi.

Dan bunyi dipungut angin dibawa ke lereng-lereng bukit dan dipantulkan dan bersuit di antara daun bambu, pohon palm dan batang ilalang, menciptakan gema yang bertalu seperti bunyi tetabuhan.

Dan sayap yang putih itu, yang seperti garis kabut menjadi cahaya yang berpendar-pendar laksana kilat dalam liukan-liukannya. Berpendar di kelopak embun, berpendar di keringat dahi, keringat lengan, keringat bibir, keringat telinga dan saling berpantul. Berpantul. Dan saling berpantul.

Tanah lapang itu jadi bermandi cahaya putih. Cahaya putih yang lebih putih dari putih. Cahaya putih yang bermula dari sayap bidadari yang terpantul keringat dahi kanak-kanak, terpantul keringat lengan kanak-kanak, keringat leher kanak-kanak. Terpantul ke rumputan karena embun. Ke daun-daun murbei, daun-daun angsoka, kenanga. Dan kanak-kanak terus menari. Bidadari terus menari. Rumputan ikut menari. Pohon-pohon palm menari. Sampai dini hari.

Lalu Lintang Luku itu melempar cahaya. Memercik di angkasa. Saling bersilang dan bersabung. Sesaat kanak-kanak berhenti dari menari. Kami yang tua-tua cemas menatapnya. Percik cahaya itu sesaat reda dan sunyi yang dilahirkan segera diisi siulan angin dari arah cakrawala. Siulan yang terus menggema dan semakin menggema dan mengurung kami. Mengurung dan berputar-putar mengelilingi tanah lapang kami. Anak-anak masih berhenti menari. Kami yang tua-tua cemas menanti.

"Tak apa! Itu hanya pertanda aku harus pergi!" jelas bidadari sambil masih menari sendiri.
\r\n

Bidadari itu pun kemudian mengepak sayapnya. Bunyinya bersiut, bersahut dengan suara angin yang bersiul. Bersahut. Dan bersahut-sahutan. Menjadi sebuah orkestrasi dari semacam ribuan denting logam yang bersintuhan, yang terpercik seperti suara hujan. Hujan dari logam mulia yang berdentangan, berdentingan, berdentang-denting. Ringan, lincah dan ceria.

"Ayo, menari lagi!" ajak Bidadari.
\r\n

Anak-anak pun menari lagi. Melenting-lenting. Sambil bertepuk tangan. Tangan yang menggapai langit. Memeluk kawan. Menggandeng malam. Bidadari mengembangkan lengannya. Mengembangkan tangannya. Anak-anak pun menirukan. Bidadari mengulurkan sayapnya pada udara. Menurunkannya melebar. Anak-anak mengacungkan lengannya. Menurunkannya. Bidadari berputar. Anak-anak berputar. Suara berdentang, berdenting, dari semacam hujan logam mengiring. Bidadari masih berputar. Terus berputar. Berputar-putar. Hingga tinggal cahaya putih. Cahaya putih yang berputar bagai kabut dinihari. Dan kabut itu meliuk-liuk seirama suara dentang, suara dentang dari sayap yang berputar, suara dentang dari siul angin yang mengambang.
\r\n

Dan suara itu menghilang bersama kabut putih yang larut perlahan terhisap embun di rumputan meninggalkan sunyi yang hening di atas tanah lapang.
\r\n
****
"Apakah ia akan datang lagi kepada kami?"
"Aku suka suaranya yang teduh menyiramkan kesegaran!""Lehernya yang seputih angsa begitu indah dirayapi keringatnya yang meleleh seperti sisa hujan di kaca jendela."

"Tapi matanya sebening telaga. Hijau, mungkin kelabu."
"Hitam kecoklatan!"
"Itu rambutnya. Hitam berkilatan dan jenjang."
"Kakinya yang jenjang. Putih gading. Menyibak gaunnya yang putih salju."
"Aku ingin ia menari lagi. Juga menyanyi. Aku ingin tidur di lengannya berselimut sayapnya yang lembut."
"Jika aku bermata bundar seperti matanya. Bundar dan hitam, dan bening. Dengan lentik bulu-bulunya yang panjang..."
\r\n
\r\n"Tapi alisnya mirip alisku. Tebal dan terang warnanya."
\r\n
\r\n"Runcing hidungnya yang kecil, cocok benar dengan bibirnya yang tipis dan selalu tersenyum."
\r\n
\r\n"Dan bulu lembut di kumisnya betapa indah di wajahnya yang terang."
\r\n
\r\n"Keringat yang bermanik-manik di jidatnya, seperti butiran mutiara di pasir putih di dasar laut yang jernih."
\r\n
\r\n"Kau lihat, sejumlah gemerlap dari gemintang yang berpantulan di rambutnya?"
\r\n
\r\n"Aku suka pinggangnya yang ramping kumbang. Jurang sempit di dadanya terjepit bukit runcing. Dan tubuh itu menggelombang ketika ia berputar. Bergetar seperti ombak yang tenang terdorong angin ketika ia tarikan gerak terbang. Dan gaunnya yang putih terangkat sebagai kelopak-kelopak Teratai yang berdenyar-denyar di permukaan kolam yang karena tetesan keringat menjadikannya mirip kuntum-kuntum embun."
\r\n
\r\n"Apakah kami akan menari lagi bersamanya, bapak?"
\r\n***
\r\n
\r\n
\r\n
Dan malam belum lagi tiba. Bahkan senja masih tertunda tiba. Sore belum terusir dari langit. Kerlap emas meluas selengkung mata. Tanah lapang itu telah dipenuhi penduduk kota. Yang tua-tua bergerombol-gerombol, yang muda-muda berjalan kian-kemari seakan Merak yang kebingungan oleh banyaknya mata yang memandang, sementara, yang kanak-kanak berlari berkejar-kejaran. Yang membawa selendang menyeretnya di udara, membayangkan diri seular terbang dengan sepanjang ekor. Mereka menjerit-jerit sesuara elang. Nafasnya sedesis ular. Adapula yang mengkaok, selendangnya melebar seruas dua tangannya yang mengembang, larinya meloncat-loncat.
\r\n
\r\n
\r\n
Lalu sore tinggal seleret jingga dan cakrawala.
\r\n
\r\nAda yang mulai bernyanyi: "Soyang... Soyang... Batik plang kidul Semarang..."
\r\n

\r\nAda yang menyahut: "Ha\'e ulo banyu dalan gedhe wote lunyu...."
\r\n

\r\nSerombong bocah berbaris. Di paling depan mengembangkan lengan. Sejerat lendang menelikung ketiaknya, bersampir di bahu menggaris belakang leher. Dua ujung selendang itu dihela oleh tangan yang membayang diri sebagai sais kereta yang menjejak kuda. Di belakangnya bocah-bocah menari, juga menyanyi: "Dempo papo pandem, Ji walang kaji gogok beluk dendem, Cang kromo lombok abang dewo, Darmedi sing ketiban dadi..." Mereka berarak dengan pantat yang mengegol.
\r\n

\r\nAda juga yang bergerombol, menari dan menyanyi; "Kidang talung, makan kacang mbelung, mil kethemil mil kethemil si kidang mangan lembayung..." Mereka melompat-lompat. Membayangkan diri serupa kijang. Ada yang mengais kaki. Ada yang mengembangkan tangan di pinggang. Kepalanya bergerak-gerak. Mencari. Ada yang membuka telapak tangan. Menempelkan ibu jari sebagai tanduk dan mengibas-kibaskannya.

\r\n
\r\nDebu mengepul. Putihnya serupa kabut pada malam yang mulai turun. Kanak-kanak itu masih saja menari. Menyanyi.

\r\n
\r\nLalu ada yang berteriak menyentak; "Ia telah datang!"
\r\n

\r\nSemua terkejut. Serempak berdiri di tempatnya. Hanya mata mereka yang mencari-cari.
\r\n

\r\n"Mana?"
\r\n

\r\n"Mana?"
\r\n

\r\n"Mana?"
\r\n

\r\n"Lihatlah debu yang mengepul itu! Perhatikan!"
\r\n

\r\n"Bukankah itu Murai yang menari bersama Belibis?"
\r\n

\r\n"Dan warna putih itu kan baju Belibis yang bergerak, berputar-putar?"
\r\n

\r\n"Lihatlah. Perhatikan baik-baik. Belibis tak seperti itu baju putihnya. Bukankah itu putih yang seperti basah. Yang memantulkan biru dari malam yang berembun?"

\r\n
\r\n"Hei, aku di sini. Aku menari bersama Nuri!" tiba-tiba suara menghenyak.
\r\n
\r\n
Semua berpaling. Dan mereka menyaksikan Bidadari menari menggendong Nuri. Hijau baju Nuri, yang bercampur kuning, bercamput orange menggambar bias pelangi di gaun Bidadari.
\r\n
\r\n"Ibu gendonglah aku juga!" jerit Melati.

\r\n
\r\n"Aku juga!" pinta Laron.

\r\n
\r\n"Bolehkah aku bergayut di sayapmu Ibu?" tanya Kenanga.

\r\n
\r\nDan kanak-kanak itu menjerit-jerit menyuarakan kehendaknya.

\r\n
\r\n"Ayolah. Berpeganglah semua pada sayapku, lenganku, bajuku rambutku atau tubuhku!"

\r\n
\r\nDan Bidadari itu pun mulai menari. Mulai menyanyi.

\r\n
\r\n"Ana kidung rumeksa ing wengi.
Teguh ayu luput ing lelaraLuput ing bilahi kabehJim Setan datan purunpaneluhan tan ana wanimiwah panggawe alagunane wong luputgeni atemahan tirtamaling adoh tan wani peraking mamituju guna pan sirna"
\r\n
\r\nDan Bidadari itu pun menari. Sejumlah bocah di tubuhnya. Ada Melati yang bergayut rambut. Kenanga berpegang pada lengan.
\r\nMurai berlari berjingkat-jingkat menjejaki berkas putih garis kaki Bidadari. Telaga menggerakkan tangannya serupa ombak, berpegang pada pundak. Nuri, Manyar, Srikatan, Padma, Lily, dan entah siapa lagi berbaris serupa ular. Mereka mengikut gerak Bidadari sambil berjalan melingkari.

\r\n
\r\nMalam semakin biru oleh hijau daun dan putih bintang. Embun berloncatan dari rumput ke rumput, dari kaki ke kaki, dari rumput ke kaki, dari kaki ke rumput-rumput. Desah nafas berlelehan pada keringat. Senyumnya bahagia mengaliri leher. Mengkristal di dahi. Sealir kali menganak pada bibir Bidadari.

\r\n
\r\n"Aku akan ikut menari!" ledak suara dewasa bermata Elang. Sigap ia meloncat. Berlari ke tengah padang.

\r\n
\r\n"Hei, jangan kau rebut kebahagiaan anak-anak!" ada yang melarang.

\r\n
\r\n"Biarkan mereka bermain. Jangan kau ganggu anak-anak itu!"

\r\n
\r\n"Jangan!"

\r\n
\r\n"Jangan!"

\r\n
\r\n"Jangan!"

\r\n
\r\nMata Elang itu tak menggubris. Ia seperti terbang berlari ke arah Bidadari.

\r\n
\r\nDi sentakkannya Melati. Dibantingnya Kenanga. Direbutnya Bidadari. Dipaksanya menari.

\r\n
\r\n"Aku tak ingin menari denganmu. Aku hanya ingin menari dengan anak-anakmu!" jelas Bidadari.

\r\n
\r\n"Tidak kau harus menari denganku!" perintah Mata Elang itu.

\r\n
\r\n"Tidak kau harus menari juga dengan kami!" lari suara selelaki lagi.

\r\n
\r\n"Ya, kami juga ingin ikut menari!" sergah selelaki lagi.

\r\n
\r\n"Ayo, giliran kita yang menari!"

\r\n
\r\nMereka, lelaki-lelaki dewasa, berlari untuk menari.

\r\n
\r\nMemaksa Bidadari.

\r\n
\r\nAda yang mencoba memegang sayapnya. Ada yang coba menepiskannya. Ada yang ingin meraih pinggang. Ada yang berusaha memeluk. Gerak mereka menjadi liar. Yang memegang sayap menggenggamnya erat-erat. Sayap itu robek. Selengan kanan patah. Rambut tercerabut. Gaun tercabik.

\r\n
\r\nDi tepi padang, anak-anak memandang muram. Wajahnya sedih membiru di dahi yang terpelanting, memerah pada bibir yang pecah, mengembun pada mata, tanpa suara, memandang tangan Bidadari yang terlempar ke angkasa.
Tanpa tenaga anak-anak pulang ke gubuknya. Membasuh kaki, lengan dan jarinya. Dan naik ke ranjang, sendiri. Hanya sendiri.
\r\n
\r\nDan dalam tidurnya, mereka bermimpi dikeroyok lelaki serupa ayah sendiri. Selepas pagi mereka menemukan diri mereka: Ada yang telah kehilangan kaki, ada yang telah kehilangan telinga, ada yang telah kehilangan mata, ada yang telah kehilangan tangannya, ada yang telah hilang kepalanya.
\r\n***
\r\n
\r\n




Comments on this page:
Comment posted by World of Warcraft Gold( wensrdncaoll.com ), 06/09/2013 at 10:19am (UTC):
Most likely your jewelry is going to be more desirable, although i normally bring a sizing Eight which means it is exactly what size When i required, Through experience i have an alternative set of two World of Warcraft Gold nonetheless the common concise balck varieties, and are also a good over all size 8-10, they fit wonderful, however just didn't. I personally mailed it away..

Comment posted by the secret world gold( kutaxxaoll.com ), 06/29/2013 at 11:13am (UTC):
the secret world gold Envoi tr??s agile, produit conforme, vendeur vrai serieux ??



Add comment to this page:
Your Name:
Your Email address:
Your website URL:
Your message:

Today, there have been 246020 visitors (807178 hits) on this page!
=> Do you also want a homepage for free? Then click here! <=